Jumat, 03 Juli 2015

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN DI DESA JAMBESARI
TUGAS
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pembimbing: Dr. Imam B. Jauhari, M.Si


Oleh:
Safaruddin Ridwan                (084131309)




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JULI 2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt  atas berkat, rahmat, taufik serta hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa kabar gembira bagi umat islam yang bertaqwa.
       Tulisan  ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Agama. Dalam penulisan Tugas ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih kepada:
1.    Bapak Imam B. Jauhari  selaku dosen pembimbing mata kuliah Sosiologi Pendidikan, yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
2.    Kedua Orang tua yang telah memberikan dukungan untuk terselesaikannya makalah ini.
3.    Semua pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
       Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khusunya pembaca, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan ilmu pendidikan.


Di sini saya akan menggambarkan secara detail mengenai organisasi keagamaan yang berada di Desa Jambesari Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Organisasi Islam di sini merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dipelajari. Mengingat bahwa organisasi Islam merupakan representasi dari umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia. Hal ini menjadikan organisasi Islam menjadi sebuah kekuatan sosial maupun politik yang diperhitungkan. Dari aspek kesejarahan, dapat ditangkap bahwa kehadiran organisasi-organisasi ke-Islaman, baik bergerak dalam bidang politik maupun yang bergerak dalam bidang sosial membawa sebuah pembaruan bagi bangsa, seperti cikal bakal terbentuknya Sarekat Islam sebagai cikal bakal terbentuknya organisasi politik, Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama’). Dengan adanya hal tersebut merupakan pembangkit semangat bangsa.
Jika melihat perkembangan organisasi ke-Islaman di desa Jambesari, mayoritas penduduknya seratus persen adalah seorang Muslim. Dan dari segi organisasi keagamaan masyarakatnya kebanyakan mengikuti organisasi atau berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’). Meskipun demikian kebanyakan dari mereka tidak memahami secara mendetail apa yang dinamakan organisasi NU atau nilai-nilai yang terkandung di dalam organisasi ke-Islaman tersebut. Hal ini dikarenakan di desa Jambesari tidak ada yang namanya kepengurusan Nahdlatul Ulama’ dalam ruang lingkup desa maupun oknum-oknum masyarakat yang berkecimpung dalam kepengurusan NU.
 Masyarakat disana kebanyakan hanya mengikuti atau memilih teladan sebagai panutan seperti pemimpin-pemimpin pondok pesantren besar yang berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’) dan menjadikan masyarakat disana hanya memahami organisasi ke-Islaman (dalam hal ini NU) secara umum saja tanpa mengetahui secara mendetail. Misalnya, KH.Mutawakkil Alallah (pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sekaligus pengurus PWNU Jawa Timur) yang berada di Kraksaan Probolinggo dan KH.Nawawi (selaku pimpinan Pondok Pesantren Sidogiri) yang berada di Pasuruan. Kedua pimpinan tersebut merupakan tokoh NU.
Dengan hal itu, masyarakat desa Jambesari sedikit banyak memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai yang dalam sebuah organisasi keagamaan (NU). Dapat dikatakan hanya organisasi NU saja yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat disana. Tidak ada organisasi-organisasi yang lain masuk dan berpengaruh signifikan terhadap kehipun masyarakat disana. Mungkin hal tersebut terjadi karena masyarakat disana tetap mempertahankan nilai-nilai historis dan nilai-nilai kebudayaan yang sangat kental dan menjadi ciri khas masyarakat disana. Seperti adanya Slametan, tingkepan, tahlil dan lain sebagainya.
Hal ini berbanding lurus dengan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ yang merupakan satu-satunya organisasi keagamaan yang mempertahankan nilai-nilai tradisionalis nusantara. Sehingga hal ini menyebabkan masyarakat disana beranggapan bahwa nilai-nilai organisasi NU sangat cocok dengan masyarakat.
Sebegitu kentalnya organisasi NU di masyarakat Jambesari sehingga jarang sekali organisasi-organisasi keagamaan yang lain mampu bersanding dan mampu mengikat hati dari masyarakat sekitar.seperti halnya Muhammadiyah dan organisasi-organisasi keagamaan lainnya yang lebih bersifat modernis.
Biasanya dalam keseharian masyarakat di desa Jambesari ini hampir secara keseluruhan sama dengan keseharian masyarakat di desa-desa lainnya. Kalau berbicara tentang organisasi keagamaan, kegiatan keagamaan disana jarang sekali yang mengatasnamakan organisasi. Kegiatan keagamaan berjalan dengan sendirinya tanpa mengatasnamakan atau yang berbau organisasi. Kegiatan kegiatan yang sering di laksanakan adalah acara rutinan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap seminggu sekali tau dalam setiap satu bulan sekali. Sebagai contoh, kegiatan rutinan “Muslimatan” yang dilaksanakan dalam satu minggu sekali,  tepatnya pada hari kamis. Kegiatan keagamaan ini dipimpin langsung oleh bapak Kusnanto dan bapak Abdul Hari. Kegiatan keagamaan yang dilaksankan di dalamnya meliputi Sholawatan, tahli dan kegiatan tausiyah yang di isi langsung oleh para bapak yang sudah saya sebutkan tadi. Tujuan dari kegiatan ini adalah: pertama, mengingat jasa-jasa Rosulullah SAW dan menambah kecintaan kepadanya dengan cara kegiatan bersholawat nabi. Kedua, senantiasa mengingat mati dan mendoakan para kelurga yang telah kembali naungan Ilahi Robbi dengan cara kegiatan Tahlil. Ketiga, senantiasa meningkatkan taqwa dan iman kepada Allah SWT dengan cara tausiyah yang disampaikan oleh pimpina jama’ah.
Contoh dari kegiatan keagamaan lainnya adalah Jam’iyyah Sholawat dan Jam’iyyah Asatidz. Jam’iyyah Sholawat di pimpin oleh ustadz Syamsuddin. Kegiatan yang dilaksanakan oleh jamaah ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiapa seminggu sekali, tepatnya hari senin. Kegiatannya sesuai demhan namanya yaitu kegiatan bersholawat nabi. Tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturrahmi setiap anggota jamaah dan juga meningkatkan taqwa kepada Allah SWT serta meningkatkan kecintaan kepada Rosulullah melalui bersholawat nabi.
Sedangkan untuk Jam’iyyah Asatidz, yang di pimpin oleh Habib Ali al-Habsy, kegiatannya meliputi kegiatan Manakiban, Tahlil dan sholawat nabi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menambah iman dan Taqwa kepada Allah dan bersholawat nabi untuk meningkatkan kecintaan kepada Rosululah SAW beserta sunnahnya serta mendoakan ahli kubur  melalui tahlil.

Dengan hal itu semua, diharapkan warga masyarakat mempererat silaturrahmi untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar dan tentang pentingnya penting kehiduoan bersosial.

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN DI DESA JAMBESARI
TUGAS
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pembimbing: Dr. Imam B. Jauhari, M.Si


Oleh:
Safaruddin Ridwan                (084131309)




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JULI 2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt  atas berkat, rahmat, taufik serta hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa kabar gembira bagi umat islam yang bertaqwa.
       Tulisan  ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Agama. Dalam penulisan Tugas ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih kepada:
1.    Bapak Imam B. Jauhari  selaku dosen pembimbing mata kuliah Sosiologi Pendidikan, yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
2.    Kedua Orang tua yang telah memberikan dukungan untuk terselesaikannya makalah ini.
3.    Semua pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
       Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khusunya pembaca, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan ilmu pendidikan.


Di sini saya akan menggambarkan secara detail mengenai organisasi keagamaan yang berada di Desa Jambesari Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Organisasi Islam di sini merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dipelajari. Mengingat bahwa organisasi Islam merupakan representasi dari umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia. Hal ini menjadikan organisasi Islam menjadi sebuah kekuatan sosial maupun politik yang diperhitungkan. Dari aspek kesejarahan, dapat ditangkap bahwa kehadiran organisasi-organisasi ke-Islaman, baik bergerak dalam bidang politik maupun yang bergerak dalam bidang sosial membawa sebuah pembaruan bagi bangsa, seperti cikal bakal terbentuknya Sarekat Islam sebagai cikal bakal terbentuknya organisasi politik, Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama’). Dengan adanya hal tersebut merupakan pembangkit semangat bangsa.
Jika melihat perkembangan organisasi ke-Islaman di desa Jambesari, mayoritas penduduknya seratus persen adalah seorang Muslim. Dan dari segi organisasi keagamaan masyarakatnya kebanyakan mengikuti organisasi atau berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’). Meskipun demikian kebanyakan dari mereka tidak memahami secara mendetail apa yang dinamakan organisasi NU atau nilai-nilai yang terkandung di dalam organisasi ke-Islaman tersebut. Hal ini dikarenakan di desa Jambesari tidak ada yang namanya kepengurusan Nahdlatul Ulama’ dalam ruang lingkup desa maupun oknum-oknum masyarakat yang berkecimpung dalam kepengurusan NU.
 Masyarakat disana kebanyakan hanya mengikuti atau memilih teladan sebagai panutan seperti pemimpin-pemimpin pondok pesantren besar yang berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’) dan menjadikan masyarakat disana hanya memahami organisasi ke-Islaman (dalam hal ini NU) secara umum saja tanpa mengetahui secara mendetail. Misalnya, KH.Mutawakkil Alallah (pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sekaligus pengurus PWNU Jawa Timur) yang berada di Kraksaan Probolinggo dan KH.Nawawi (selaku pimpinan Pondok Pesantren Sidogiri) yang berada di Pasuruan. Kedua pimpinan tersebut merupakan tokoh NU.
Dengan hal itu, masyarakat desa Jambesari sedikit banyak memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai yang dalam sebuah organisasi keagamaan (NU). Dapat dikatakan hanya organisasi NU saja yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat disana. Tidak ada organisasi-organisasi yang lain masuk dan berpengaruh signifikan terhadap kehipun masyarakat disana. Mungkin hal tersebut terjadi karena masyarakat disana tetap mempertahankan nilai-nilai historis dan nilai-nilai kebudayaan yang sangat kental dan menjadi ciri khas masyarakat disana. Seperti adanya Slametan, tingkepan, tahlil dan lain sebagainya.
Hal ini berbanding lurus dengan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ yang merupakan satu-satunya organisasi keagamaan yang mempertahankan nilai-nilai tradisionalis nusantara. Sehingga hal ini menyebabkan masyarakat disana beranggapan bahwa nilai-nilai organisasi NU sangat cocok dengan masyarakat.
Sebegitu kentalnya organisasi NU di masyarakat Jambesari sehingga jarang sekali organisasi-organisasi keagamaan yang lain mampu bersanding dan mampu mengikat hati dari masyarakat sekitar.seperti halnya Muhammadiyah dan organisasi-organisasi keagamaan lainnya yang lebih bersifat modernis.
Biasanya dalam keseharian masyarakat di desa Jambesari ini hampir secara keseluruhan sama dengan keseharian masyarakat di desa-desa lainnya. Kalau berbicara tentang organisasi keagamaan, kegiatan keagamaan disana jarang sekali yang mengatasnamakan organisasi. Kegiatan keagamaan berjalan dengan sendirinya tanpa mengatasnamakan atau yang berbau organisasi. Kegiatan kegiatan yang sering di laksanakan adalah acara rutinan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap seminggu sekali tau dalam setiap satu bulan sekali. Sebagai contoh, kegiatan rutinan “Muslimatan” yang dilaksanakan dalam satu minggu sekali,  tepatnya pada hari kamis. Kegiatan keagamaan ini dipimpin langsung oleh bapak Kusnanto dan bapak Abdul Hari. Kegiatan keagamaan yang dilaksankan di dalamnya meliputi Sholawatan, tahli dan kegiatan tausiyah yang di isi langsung oleh para bapak yang sudah saya sebutkan tadi. Tujuan dari kegiatan ini adalah: pertama, mengingat jasa-jasa Rosulullah SAW dan menambah kecintaan kepadanya dengan cara kegiatan bersholawat nabi. Kedua, senantiasa mengingat mati dan mendoakan para kelurga yang telah kembali naungan Ilahi Robbi dengan cara kegiatan Tahlil. Ketiga, senantiasa meningkatkan taqwa dan iman kepada Allah SWT dengan cara tausiyah yang disampaikan oleh pimpina jama’ah.
Contoh dari kegiatan keagamaan lainnya adalah Jam’iyyah Sholawat dan Jam’iyyah Asatidz. Jam’iyyah Sholawat di pimpin oleh ustadz Syamsuddin. Kegiatan yang dilaksanakan oleh jamaah ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiapa seminggu sekali, tepatnya hari senin. Kegiatannya sesuai demhan namanya yaitu kegiatan bersholawat nabi. Tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturrahmi setiap anggota jamaah dan juga meningkatkan taqwa kepada Allah SWT serta meningkatkan kecintaan kepada Rosulullah melalui bersholawat nabi.
Sedangkan untuk Jam’iyyah Asatidz, yang di pimpin oleh Habib Ali al-Habsy, kegiatannya meliputi kegiatan Manakiban, Tahlil dan sholawat nabi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menambah iman dan Taqwa kepada Allah dan bersholawat nabi untuk meningkatkan kecintaan kepada Rosululah SAW beserta sunnahnya serta mendoakan ahli kubur  melalui tahlil.

Dengan hal itu semua, diharapkan warga masyarakat mempererat silaturrahmi untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar dan tentang pentingnya penting kehiduoan bersosial.

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN

GAMBARAN DETAIL ORGANISASI KEAGAMAAN DI DESA JAMBESARI
TUGAS
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pembimbing: Dr. Imam B. Jauhari, M.Si


Oleh:
Safaruddin Ridwan                (084131309)




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JULI 2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt  atas berkat, rahmat, taufik serta hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa kabar gembira bagi umat islam yang bertaqwa.
       Tulisan  ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Agama. Dalam penulisan Tugas ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih kepada:
1.    Bapak Imam B. Jauhari  selaku dosen pembimbing mata kuliah Sosiologi Pendidikan, yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
2.    Kedua Orang tua yang telah memberikan dukungan untuk terselesaikannya makalah ini.
3.    Semua pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
       Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangan. Oleh karena itu, Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khusunya pembaca, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengembangan ilmu pendidikan.


Di sini saya akan menggambarkan secara detail mengenai organisasi keagamaan yang berada di Desa Jambesari Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember. Organisasi Islam di sini merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dipelajari. Mengingat bahwa organisasi Islam merupakan representasi dari umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia. Hal ini menjadikan organisasi Islam menjadi sebuah kekuatan sosial maupun politik yang diperhitungkan. Dari aspek kesejarahan, dapat ditangkap bahwa kehadiran organisasi-organisasi ke-Islaman, baik bergerak dalam bidang politik maupun yang bergerak dalam bidang sosial membawa sebuah pembaruan bagi bangsa, seperti cikal bakal terbentuknya Sarekat Islam sebagai cikal bakal terbentuknya organisasi politik, Muhammadiyah dan NU (Nahdlatul Ulama’). Dengan adanya hal tersebut merupakan pembangkit semangat bangsa.
Jika melihat perkembangan organisasi ke-Islaman di desa Jambesari, mayoritas penduduknya seratus persen adalah seorang Muslim. Dan dari segi organisasi keagamaan masyarakatnya kebanyakan mengikuti organisasi atau berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’). Meskipun demikian kebanyakan dari mereka tidak memahami secara mendetail apa yang dinamakan organisasi NU atau nilai-nilai yang terkandung di dalam organisasi ke-Islaman tersebut. Hal ini dikarenakan di desa Jambesari tidak ada yang namanya kepengurusan Nahdlatul Ulama’ dalam ruang lingkup desa maupun oknum-oknum masyarakat yang berkecimpung dalam kepengurusan NU.
 Masyarakat disana kebanyakan hanya mengikuti atau memilih teladan sebagai panutan seperti pemimpin-pemimpin pondok pesantren besar yang berazaskan NU (Nahdlatul Ulama’) dan menjadikan masyarakat disana hanya memahami organisasi ke-Islaman (dalam hal ini NU) secara umum saja tanpa mengetahui secara mendetail. Misalnya, KH.Mutawakkil Alallah (pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong sekaligus pengurus PWNU Jawa Timur) yang berada di Kraksaan Probolinggo dan KH.Nawawi (selaku pimpinan Pondok Pesantren Sidogiri) yang berada di Pasuruan. Kedua pimpinan tersebut merupakan tokoh NU.
Dengan hal itu, masyarakat desa Jambesari sedikit banyak memiliki pemahaman terhadap nilai-nilai yang dalam sebuah organisasi keagamaan (NU). Dapat dikatakan hanya organisasi NU saja yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat disana. Tidak ada organisasi-organisasi yang lain masuk dan berpengaruh signifikan terhadap kehipun masyarakat disana. Mungkin hal tersebut terjadi karena masyarakat disana tetap mempertahankan nilai-nilai historis dan nilai-nilai kebudayaan yang sangat kental dan menjadi ciri khas masyarakat disana. Seperti adanya Slametan, tingkepan, tahlil dan lain sebagainya.
Hal ini berbanding lurus dengan nilai-nilai yang terkandung dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ yang merupakan satu-satunya organisasi keagamaan yang mempertahankan nilai-nilai tradisionalis nusantara. Sehingga hal ini menyebabkan masyarakat disana beranggapan bahwa nilai-nilai organisasi NU sangat cocok dengan masyarakat.
Sebegitu kentalnya organisasi NU di masyarakat Jambesari sehingga jarang sekali organisasi-organisasi keagamaan yang lain mampu bersanding dan mampu mengikat hati dari masyarakat sekitar.seperti halnya Muhammadiyah dan organisasi-organisasi keagamaan lainnya yang lebih bersifat modernis.
Biasanya dalam keseharian masyarakat di desa Jambesari ini hampir secara keseluruhan sama dengan keseharian masyarakat di desa-desa lainnya. Kalau berbicara tentang organisasi keagamaan, kegiatan keagamaan disana jarang sekali yang mengatasnamakan organisasi. Kegiatan keagamaan berjalan dengan sendirinya tanpa mengatasnamakan atau yang berbau organisasi. Kegiatan kegiatan yang sering di laksanakan adalah acara rutinan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan setiap seminggu sekali tau dalam setiap satu bulan sekali. Sebagai contoh, kegiatan rutinan “Muslimatan” yang dilaksanakan dalam satu minggu sekali,  tepatnya pada hari kamis. Kegiatan keagamaan ini dipimpin langsung oleh bapak Kusnanto dan bapak Abdul Hari. Kegiatan keagamaan yang dilaksankan di dalamnya meliputi Sholawatan, tahli dan kegiatan tausiyah yang di isi langsung oleh para bapak yang sudah saya sebutkan tadi. Tujuan dari kegiatan ini adalah: pertama, mengingat jasa-jasa Rosulullah SAW dan menambah kecintaan kepadanya dengan cara kegiatan bersholawat nabi. Kedua, senantiasa mengingat mati dan mendoakan para kelurga yang telah kembali naungan Ilahi Robbi dengan cara kegiatan Tahlil. Ketiga, senantiasa meningkatkan taqwa dan iman kepada Allah SWT dengan cara tausiyah yang disampaikan oleh pimpina jama’ah.
Contoh dari kegiatan keagamaan lainnya adalah Jam’iyyah Sholawat dan Jam’iyyah Asatidz. Jam’iyyah Sholawat di pimpin oleh ustadz Syamsuddin. Kegiatan yang dilaksanakan oleh jamaah ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiapa seminggu sekali, tepatnya hari senin. Kegiatannya sesuai demhan namanya yaitu kegiatan bersholawat nabi. Tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturrahmi setiap anggota jamaah dan juga meningkatkan taqwa kepada Allah SWT serta meningkatkan kecintaan kepada Rosulullah melalui bersholawat nabi.
Sedangkan untuk Jam’iyyah Asatidz, yang di pimpin oleh Habib Ali al-Habsy, kegiatannya meliputi kegiatan Manakiban, Tahlil dan sholawat nabi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menambah iman dan Taqwa kepada Allah dan bersholawat nabi untuk meningkatkan kecintaan kepada Rosululah SAW beserta sunnahnya serta mendoakan ahli kubur  melalui tahlil.

Dengan hal itu semua, diharapkan warga masyarakat mempererat silaturrahmi untuk meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar dan tentang pentingnya penting kehiduoan bersosial.

MASYARAKAT NAHDLOTUL ULAMA

LAPORAN HASIL OBSERVASI
Masyarakat Nahdlotul Ulama
Untuk memenuhi tugas sosiologi agama yang di bimbing oleh
Bpk. Imam bonjol


Di Susun:
Muhammad Usman 084131310


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER
Juli, 2015
 
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah yang Maha Kuasa yang mana berkat Rahmat dan taufik-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Observasi ini yang berjudu “Masyarakat Nahdlotul Ulama”. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan  dalam hasil observasi ini dan saya mohon maaf karena tidak bisa menyempurnakan, kritik dan saran yang membangun akan selalu saya tunggu, karena hal tersebut akan memotifasi saya untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga hasil observasi ini dapat bermanfaat khususnya buat saya sendiri.




Penulis

Juli, 2015 
MASYARAKAT NAHDLOTUL ULAMA
Narasumber: Ust. Holik hamzah S. Ag
Disini hasil observasi  saya mengenai organisasi yang di ikuti atau di rasa paling benar (berkenan) oleh masyarkat tepatnya di desa Sidomukti kecamatan Mayang. Masyarakat sidomukti mayoritas paham organisasi Nahdlotul Ulama yang sering di sebut dengan NU atau dengan kata lain Ahlussunnah Wal-Jamaah, secara bahasa sunnah atau hadis asal katanya adalah perkataan sesuatu yang dikatakan atau yang baru, dalam istilah sunnah adalah hal-hal yang datang dari Rosulullah, baik berupa ucapan, perbuatan maupun taqrir(sunnah qauliyah).
A. Sejarah berdirinya NU
Berangkat dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional. Maka setelah itu dirasaperlu membentu organisasi yang lebih mencangkup da lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiyai karena tidak tekomodir kiyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti konversiIslam Dunia yang ada di indonesi dan timur tengah akhirnya muncullah kesepakan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlotul Ulama (kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Yang di pimpin oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai raisy akbat
B. Dasar kepercayaan
Masyarakat Sidomukti sendiri dalam menjalankan Agama Islam itu sesuai dengan tuntunan Ahlussunnah Wal-jamaah yaitu mengimani dan mengamalkan semua yang datang dari Rosulullah SAW. NU mendasarkan faham keagamaan kepada sumber ajaran Islam Al-Qur’an, Al-Hadist, Al-Ijma’ dan Al-qiyas dalam  memahami dan menafsirkan islam. Islam menurut pandangan NU adalah agama yang fitri, yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki manusia.

C. Prinsip dalam bersikap
Masyarakat sidomukti juga memegang prisip sesuai dengan Aswaja, mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang berbeda, namun bukan berarti mengakui atau membenarkan  keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.
Menurut kaum Aswaja sendiri kita dalam berpendapat maupun berbicara  harus menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan  supaya lebih menyentuh hati dan diterima dan lebih berfaidah. Karena dalam hidup ini kita harus berprinsip pada:
a. Akidah keseimbangan dalam penggunaan dalil aqli dan naqli, tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan vonis syirik , bid’ah apalagi kafir.
b. Syari’at kita harus perpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadist dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan serta ilmiah, dapat menerima perbedaan  pendapat dalam menilai masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif
c. Tasawuf/akhlak tidak mencegah bahkan menganjurkan usaha memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan prinsi-prinsip hukum Islam. Mencegah sikap berlebihan dalam menilai sesuatu dan berpedoman kepada akhlak yang luhur, misalnya sikap syaja’ah atau berani (antara penakut dan ngawur atau sembrono), sikap tawadhu’ (antara sombong dan rendah hati), dan sikap dermawan.

D. Tradisi Budaya
Dalam kehidupan masyarakat Sidomukti tidak hanya memegang teguh dasar-dasar agama Islam tetapi juga mempertahankan budaya yang telah terjalin dan diwariskan secara turun-temurun dari pendahulu mereka, tetapi semua hal itu tak semerta-merta diterima begitu saja, ada sebuah filterisasi kebudayaan yang bertujuan untuk menselaraskan budaya dengan dasar-dasar  agama Islam, sehingga budaya dan agama tidak mengalami perselisihan.
Penselarasan budaya dan agama telah berjalan sejak zaman walisongo yaitu para wali yang berjasa menyebarkan Islam ditanah jawa, dan di teruskan pada zaman penjajahan yang salah satunya adalah kyai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlotul ulama (NU). Salah satu tradisi yang masih axis dipegang teguh di desa Sidomukti antara  lain :
1. Tahlil: pembacaan surah Yasin dan tahlil yang dilakukan ketika ada orang meninggal, ini berlangsung selama tujuh malam dari hari wafatnya seseorang.
2. Slametan 7 bulanan: acara untuk mengungkapkan rasa syukur kehamilan. Ini dilakukan ketika masa kandungan berumur 4-7 bulan yang menurut Islam disaat itu lah ruh bayi ditiupkan.
3. Maulid Nabi SAW: memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilakukan pada tanggal 12 robi’ul awal.
4. Jenang suro: memperingati tahun baru hijriah
5. Ziarah kubur dan lain sebagainya
Tradisi yang seperti itulah yang berkembang dan menjadi karakter  masyarakat sidomukti. NU adalah adalah organisasi kkeislaman yang berakar dari akidah ahlussunnah wal jamaahnya Imam Asy’ari dan Maturidi. Teologi bercorak Asy’ariah Maturidi ini bcendrung mengakomodir tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.